Suara Guru Agribisnis Yang Konsisten


Catatan Bayu Krisnamurthi 19 April 2021

Refleksi Tiga Buku “Suara Agribisnis, Kumpulan Pemikiran Bungaran Saragih” (Agrina, Buku 1 tahun 2010, Buku 2 tahun 2015, Buku 3 tahun 2020)

Ada yang konsisten dari ketiga buku Suara Agribisnis, Kumpulan Pemikiran Bungaran Saragih; yang menjangkau rentang waktu lebih dari satu dekade. Pertama, ketiga buku berisi gabungan sekitar 700 halaman tulisan itu konsisten mendiskusikan, membahas, membuat refleksi, dan juga membuat prakiraan dan ‘outlook’ atas berbagai isyu agribisnis.

Kedua, ketiga buku tersebut secara konsisten membawakan pemikiran agribisnis dalam “bahasa umum dan sederhana” sebagaimana maksudnya seperti yang dikatakan pada mukadimah buku pertama. Pemikiran tentang agribisnis sebenarnya memang dapat digambarkan dalam skema yang sederhana. Namun kondisi dan permasalahan aktual yang dihadapi pertanian khususnya, dan perekonomian pada umumnya membuat situasi agribisnis real menjadi sangat kompleks dan sama sekali tidak sederhana. Dan justru karena itu semakin dibutuhkan pemahaman yang mendalam disertai dengan kepiawaian menuangkan pikiran dalam bahasa umum dan sederhana agar masyarakat dapat mengerti apa yang terjadi pada agribisnis kita.

Ketiga, buku Suara Agribisnis juga menjadi ‘saksi sejarah’ bahwa setelah lebih dari satu dekade beberapa isyu agribisnis ternyata “konsisten” ada dan belum juga selesai. Misalnya, soal impor beras. Beberapa bagian dari Buku 1, Buku 2 dan Buku 3 berulang membahas masalah impor beras itu dengan pandangan yang spesifik pada rentang waktu masing-masing buku. Atau tentang perkebunan sawit, yang terungkap berulang menghadapi persoalan harga CPO, peremajaan dan perkebunan sawit rakyat.

Konsistensi isi buku tentu tidak lepas dari konsistesi sikap dan pemikiran penulisnya. Dalam Sambutan atas penerbitan Suara Agribisnis yang pertama tahun 2010, Wakil Menteri Pertanian menyatakan bahwa baik sebagai pemikiran atau paradigma, sebagai strategi pembangunan pertanian, dan sekaligus sebagai strategi pembangunan ekonomi nasional; agribisnis – atau tepatnya “sistem dan usaha agribisnis” – memang sangat melekat dengan sosok Pak Bungaran Saragih.

Ketika pulang ke tanah air di awal 1980an setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Amerika Serikat – dengan disertasi tentang industri kelapa sawit – Pak Bungaran belum langsung mendalami soal agribisnis. Ada masa di akhir tahun 1980an dan awal 1990an Pak Bungaran justru lebih dikenal mempromosikan pemikiran pembangunan pertanian berkelanjutan dan konservasi sumberdaya alam. Pengelolaan sosial ekonomi di kawasan hulu dan dampaknya pada kawasan hilir yang mengedepankan konservasi dan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai menjadi salah ‘signature’ beliau.

Baru setelah memimpin Pusat Studi Pembangunan IPB menjelang pertengahan tahun 1990an, pak Bungaran mulai menggali pemahaman “hulu hilir” yang lain, yaitu hubungan rangkaian sistem hulu hilir dan aneka usaha yang terkait dengan pembangunan pertanian. Pada tahun 1995 melalui orasi Guru Besar nya, Prof Bungaran Saragih kemudian menawarkan pemikiran sistem (dan usaha) agribisnis sebagai cara baru melihat pertanian. Dan sejak saat itu, hingga kini, selama lebih dari 25 tahun, pak Bungaran tetap konsisten menulis, menjawab wawancara, mengajar, memberi seminar dan ‘berkotbah’ tentang agribisnis.

Gayung bersambut. Tak banyak Guru Besar yang pemikirannya di mimbar akademik diberi kesempatan dan kehormatan untuk menerapkan pemikiran itu dengan memimpin langsung dalam pemerintahan sebagai Menteri. Mungkin hanya Prof Widjojo Nitisastro, Prof B.J. Habibie, Prof Emil Salim, dan Prof Bungaran Saragih pada tahun 2000 – 2004 yang mendapat kesempatan itu. Jadilah Pengembangan Sistem dan Usaha Agribisnis resmi menjadi Strategi Pembangunan Pertanian dan coba dijalankan sepenuhnya oleh Kementerian Pertanian RI.

Mengenai permasalahan yang berulang dan tampak tidak juga selesai, seperti persoalan beras, atau sawit, atau gula, atau ayam pedaging; ketiga buku pak Bungaran memberikan indikasi yang jelas alasannya. Pertama, karena cara pandang, cara pikir, dan cara tindak sesuai paradigma sistem dan usaha agribisnis itu belum sepenuhnya dipahami dan dilakukan. Pendekatan parsial masih sering sangat menonjol. Logika bisnis masih sering diabaikan.

Kedua, ternyata pembangunan sistem dan usaha agribisnis membutuhkan waktu dan proses. Dan untuk itu perlu konsistensi dalam jangka waktu yang cukup. Ibaratnya, membangun agribisnis cabe misalnya, tidak bisa hanya seperti “sekali menggigit cabe yang langsung terasa pedasnya”.

Ketiga, pengetahuan dan pemahaman sistem dan usaha agribisnis itu sendiri belum berkembang secepat perkembangan situasi dan kondisi riilnya. Masih banyak pertanyaan belum terjawab tuntas. Bagaimana kaitan agribisnis dengan ‘global supply chain’, bagaimana agribisnis menghadapi situasi perang dagang dan pudarnya multilateralisme, bagaimana agribisnis menjawab Sustainable Development Goals, dan sebagainya.

Bahkan hal yang seharusnya ‘cukup jelas dan langsung (straight forward)’ ternyata juga masih terus membutuhkan penyempurnaan. Seperti misalnya bagaimana sebenarnya kurikulum pendidikan agribisnis yang benar-benar sesuai tuntutan saat ini, atau bagaimana merumuskan kompetensi dasar ‘bidang keahlian’ seorang ‘professional agribisnis’.

Banyaknya pertanyaan yang belum terjawab itu bukan berarti Pak Bungaran dan Suara Agribisnis nya telah gagal. Bahkan sebaliknya, justru itu menunjukkan keberhasilan Pak Bungaran yang konsisten menjadi seorang Guru.

Seorang guru pada umumnya adalah seseorang yang mampu menjawab pertanyaan muridnya. Seorang guru yang baik adalah yang mampu mendorong timbulnya pertanyaan-pertanyaan baru dalam pikiran muridnya.

Tetapi seorang guru yang istimewa adalah guru yang mampu menginspirasi tumbuhnya kerangka berpikir dalam diri muridnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan masa kini dan masa depan.

Seorang guru yang istimewa adalah guru yang mampu membangun “jembatan” antara masa kini dan masa depan, lalu mendorong muridnya untuk menyeberangi jembatan itu, dan sekaligus membangun keyakinan bahwa murid itu akan mampu membangun jembatan ke masa berikutnya.

Terima kasih Pak Bungaran yang telah menjadi Guru yang istimewa bagi sekian banyak murid, termasuk saya. Selamat Ulang Tahun ke 76.


Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*