Era Lebaran Digital


Catatan Bayu Krisnamurthi 14 Mei 2021

Lebaran tahun ini mungkin sudah 80% digital. Selama puasa lapar dan dahaganya memang tetap nyata, tetapi banyak hal lainnya telah menjadi digital: baca Quran digital, dengar khutbah digital, ikut pertemuan kelompok pengajian secara digital, bahkan beberapa kawan – terlepas dari apakah boleh atau tidak – juga sholat berjamaah secara digital.

Mencari dan juga membagi ta’jil berbuka dilakukan secara digital. Kebiasaan belanja jelang Lebaran sekarang sudah semakin banyak dilakukan secara digital. Ketupat, sambel goreng dan opor ayam nyata dimakan, tetapi pesan dan diantar via aplikasi digital, beli bahan atau makanan jadinya. Dan silaturahmi keluarga besar di hari Lebaran – meskipun masih ada yang ‘angel’ (susah dikasih tahu) dan tetap ‘ngeyel’ (mencari jalan mudik) – sangat banyak yang sudah melakukannya via facetime, zoom, whaps-video-call, dan bentuk digital lainnya. ‘Era digital’ sangat terasa pada Lebaran kali ini.

Sebagai bagian dari masyarakat awam kita mungkin hanya memahami bahwa selama kita punya dawai-pintar (smart-gadget) dan jalur internet yang lancar serta biaya pulsa yang cukup maka kita sudah bisa terlibat dalam “era digital” itu. Tetapi sesungguhnya ‘digitalisasi’ jauh lebih kompleks dan canggih dari itu.

Penjelasan The Institute for Management Development (IMD) mungkin dapat memberi gambaran betapa kompleks hal yang berkembang ‘dibelakang’ Lebaran digital itu. IMD adalah lembaga ‘with Swiss roots and global reach’, yang didirikan oleh para pimpinan dunia usaha sekitar 75 tahun lalu, disaat kehidupan digital sebenarnya masih dalam bayangan dan internet masih menjadi kemewahan. Saat ini IMD yang berbasis di Lausanne (Swiss) dan Singapura, telah menjadi lembaga top ‘think-tank’ global, dengan kegiatan pendidikan (MBA and EMBA programs) yang diakui The Financial Times sebagai 3 besar dunia dalam dekade terakhir.

Setiap tahun IMD menerbitkan World Digital Competitiveness Ranking (WDC) dan laporan terakhir memotret kondisi ‘global digital world’ tahun 2020 (terbit awal 2021). Jika kita membacanya, maka ada dua hal penting yang dapat dipelajari: 1) hal-hal apa yang dilihat sebagai komponen ‘digital competitiveness’, dan 2) bagaimana posisi Indonesia.

IMD-WDC menyatakan ‘digital competitiveness’ dibangun dari tiga komponen besar. Pertama, pengetahuan. Hal ini menyangkut pengetahuan dan ketrampilan (know-how) yang diperlukan untuk menemukan, memahami, dan membangun teknologi baru. Kata kuncinya adalah membangun ‘teknologi baru’, bukan menggunakan teknologi (lama). Dunia digital dibangun dari daya saing digital yang berkembangn tiga empat kali lebih cepat dan lebih singkat dibanding dunia ‘konvensional’. Jika kita hanya bisa menggunakan – sehebat atau seluas apapun itu – maka kita tidak akan memiliki daya saing. Kita harus punya kemampuan membangun teknologi digital baru. Dan – masih menurut IMD-WDC – hal ini didasarkan pada kemampuan untuk memupuk dan menumbuhkan talenta-talenta, melakukan pendidikan dan latihan, dan membangun konsentrasi sains. Jadi komponen pertama ini berpusat pada manusianya, talentanya, yang harus cukup banyak dan hebat dibidang digital.

Komponen kedua, teknologi. Dalam ini adalah seluruh ekosistem dan ‘overall-context’ yang memungkinkan perkembangan teknologi-digital, yang juga dalam arti yang jamak: banyak-teknologi. Hal yang pertama termasuk dalam komponen ini adalah kebijakan dan regulasi pemerintah yang kondusif untuk menumbuh-suburkan teknologi digital. Kemudian diperlukan juga permodalan dan investasi, baik investasi publik tetapi terutama investasi privat, yang didedikasikan untuk membangun teknologi digital. Dan tentunya kerangka kerja dan peta pengembangan teknologi yang sesuai dan maju.

Komponen ketiga, kesiapan masa depan (future readiness). Dunia digital yang menopang ‘lebaran digital’ 1442 H tahun ini dipandang baru menjadi ‘pembukaan’, baru pada tahap awal dari era baru dunia digital. Masa depan akan berbeda dan berkembang. Untuk itu diperlukan kesiapan yang dibangun dari sikap mental yang adaptif, kelincahan bisnis (business agility), dan – pada tahap ini – integrasi kuat sistem informasi dan telekomunikasi.

Menggunakan ketiga komponen itu, untuk kelompok negara dengan penduduk diatas 20 juta orang yang disurvei oleh IMD, Indonesia berada di ranking 23 dari 28 negara. Tetangga-tetangga kita: Australia ranking 6, Malaysia 10, Thailand 15, dan Filipina 24. Untuk kelompok negara dengan pendapatan per kapita kurang dari USD20ribu, Indonesia berada pada urutan 22 dari 29. Tetangga-tetangga kita: Malaysia ranking 2, Thailand 7 dan Filipina 23.

Jika dilihat dalam 5 tahun terakhir (2016-2020), maka angka indeks Indonesia masih berada pada kisaran 30-60; yang kalau di kampus mungkin hanya mendapat huruf mutu D dan C. Dalam periode itu memang ada 5 unsur komponen yang menunjukkan peningkatan: konsentrasi sain, kerangka peraturan dan kebijakan pemerintah, kerangka teknologi, sikap mental adaptif, dan integrasi informasi dan telekomunikasi; tetapi ada 4 unsur yang menurun: jumlah talenta, pelatihan dan pendidikan, modal dan investasi, serta – yang paling rendah nilainya dan menurun – adalah kelincahan bisnis.

Lebaran (digital) tahun ini mungkin telah dilewati. Tetapi pacuan dan kebutuhan untuk mengembangkan teknologi digital justru semakin mendesak dan penting. Memang hal itu jelas bukan hanya untuk kepentingan ber-Lebaran, tetapi boleh jadi ada kaitannya dengan doa akhir Ramadhan yang selalu diucapkan: semoga Allah SWT menerima puasa kita, dan kelak mempertemukan kita lagi dengan (realita-virtual-digital) Ramadhan dan Lebaran berikutnya.

Mohon maaf lahir dan bathin.—


Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*