PB Wanita Al Irsyad: Satu Tungku Tiga Batu di Papua Tergerus Pengaruh Global


Kementerian Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak mengadakan launching hasil penelitian di tujuh wilayah adat di tanah Papua. Penelitian yang dilakukan oleh tim kelompok kerja Perempuan dan Anak Dewan Adat Papua, yang didampingi oleh Kementerian PPA, merupakan penelitian kualitatif. Eirene Waromi yang memaparkan hasil penelitian tersebut menegaskan bahwa penguatan terhadap harkat wanita di Papua belum berlangsung sesuai harapan. Di beberapa daerah di Papua wanita masih mengalami kekerasan dan kurang penghargaan dari para lelaki. Yang menarik dari paparan Eirene, bahwa wanita di pegunungan Jayawijaya lebih dihormati dibandingkan daerah lain, sebab mereka bertani dan memiliki lahan pertanian. Tetapi ia juga menyatakan keprihatinan terhadap rendahnya partisipasi petani untuk menanam padi, disebabkan beras raskin yang dibagikan gratis di Papua mengakibatkan petani tidak mau menanam lagi. Menurut nya beras petani tidak laku dijual. Diakhir pemaparan, ia mengatakan dengan tegas, bila ingin membantu Papua, berantas peredaran miras, sebab anak muda di sana kerap mabuk dan berkelahi. Di masa lalu miras diminum hanya waktu-waktu tertentu, terkait dengan upacara adat, tetapi sekarang anak muda minum tak kenal waktu. Sedang Ketua dewan adat Papua Yan Pieter Yarangga menekankan penting menyelamatkan nyawa seseorang, sebab nyawa itu sangat berharga dan wajib dilindungi. Ia menyoroti tentang anak-anak yang mengalami gizi buruk dan tingkat kematian kelahiran yang masih tinggi.

PB Wanita Al Irsyad dalam kesempatan sumbang saran melontarkan pemikiran tentang kemungkinan Filosofi Satu Tungku Tiga Batu yang selama bertahun-tahun sudah menjadi pedoman kerukunan bermasyarakat di Papua, hanya tinggal filosofi saja. Konflik yang kerap terjadi di Papua bukan disebabkan oleh hilangnya nilai-nilai budaya yang selama ini berlaku, tetap efek global yaitu masuknya pengelolaan sumberdaya alam di Papua oleh perusahaan multinasional. Endang Rudiatin yang mewakili PB Wanita Al Irsyad mengungkapkan tentang penelitian Antropolog Ana Tsing di pegunungan Meratus Kalimantan, yang mengalami perubahan budaya disebabkan globalisasi. Menurut nya lagi Satu Tungku Tiga Batu harus dihidupkan lagi dalam giat pemberdayaan masyarakat, budaya positif yang sudah berkembang di masyarakat. Al Irsyad Al Islamiyyah di Papua sudah tersebar di beberapa kabupaten dan kota seperti Keerom, Sorong, Jayapura, Jayawijaya, Fak-Fak dengan membangun banyak sekolah dari TK hingga MA. Endang menyampaikan kesiapan Al Irsyad Al Islamiyyah untuk membantu mengatasi stunting dan kesehatan reproduksi serta kesehatan ibu hamil dan anak. Melalui sekolah anak-anak dan ibunya bisa diedukasi tentang perbaikan gizi, pola makan dan kebersihan diri dan lingkungan melalui penyuluhan orang tua murid.

Diskusi Narasi Perubahan: Upaya Membangun Sinergitas Para Pemangku Kepentingan Untuk Pemberdayaan dan Perlindungan Anak di Tujuh Wilayah Adat Papua, dihadiri kalangan penggiat Perempuan dan Anak dari ormas dan perguruan tinggi, serta lembaga-lembaga terkait.

Date: Rabu 16 Oktober 2019. Menara Peninsula Hotel Jakarta.


Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*