Pangan Non-Gizi


Catatan awam Bayu Krisnamurthi 6 Desember 2020

Dalam terminologi pangan dan gizi, dipahami bahwa pengertian pangan lebih berupa ‘material’ dari bahan pangan: nasi, daging ayam, tempe, sayuran, buah-buahan, dan sebagainya. Gizi adalah zat yang terkandung dalam makanan itu: protein, lemak, dan karbohidrat; dan juga yang sering disebut sebagai ‘gizi mikro’: mineral dan vitamin. Dalam literatur, air juga terkategori sebagai gizi dan menjadi zat bermanfaat yang terkandung dalam makanan atau dikonsumsi langsung sebagai air minum. Gizi memang menjadi penentu berfungsinya tubuh manusia, menghasilkan energi, memelihara dan membangun jaringan tubuh manusia, serta mengatur proses-proses kehidupan tubuh manusia. Baik ‘material’ pangan dan gizi yang terkandung didalamnya, telah disepakati sama pentingnya. Itulah sebabnya rumusan strategiknya adalah “ketahanan pangan dan gizi”.

Mencerahkan. Itu kesan mengikuti webinar Akademi Ilmu Pangan dan Gizi, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPG-AIPI). Dan bagi seorang awam yang tidak berlatar belakang ilmu gizi atau ilmu dan teknologi pangan, pencerahan dari diskusi terakhir AIPG-AIPI adalah tentang “non-gizi”.

Disisi lain, yang juga perlu diingat (dan terus diingatkan) adalah bahwa dalam makanan ada juga yang terkategori sebagai “non-gizi”. Mungkin yang paling jelas bagi masyarakat awam adalah bumbu. Bumbu sangat penting dalam makanan, tetapi bukan karena gizinya. Mungkin saja dalam beberapa bumbu terdapat ‘gizi mikro’, tetapi manfaat dari bumbu yang paling utama adalah untuk memperkaya rasa, atau memberi warna, atau membuat aroma, dan kesemuanya itu menjadikan makanan menjadi nikmat disantap, menarik dipandang dan kita menjadi ‘lebih ingin’ makan. Makan bukan hanya karena memenuhi ‘kewajiban’ akibat lapar tetapi juga karena membuat kita berbahagia – atau seperti yang dikatakan Prof. Antonius Suwanto: turut mempromosikan ‘well-being’. Lagi pula, kajian ilmiah telah menunjukkan bahwa hormon ‘serotonin’ yaitu hormon yang membuat manusia merasa nyaman (feel good hormone) 95% dihasilkan di saluran pencernaan. Ada yang mengatakan ‘our mood is shaped by our food’.

Zat non-gizi lain yang sangat penting adalah zat pro-biotik, ‘mahluk hidup’ mikrob berbentuk bakteri-baik atau bentuk lain yang turut menjaga ‘kehidupan’ saluran pencernaan, menjadi komponen penghasil enzim dan hormone, dan berbagai hal lain yang bermanfaat dalam tubuh manusia. Diperkirakan tubuh manusia penuh oleh mikrob yang akan menentukan kebugaran tubuh, ada atau tidaknya berbagai penyakit, dan – yang saat ini sedang jadi ‘top-of-mind’ banyak orang: membangun imunitas tubuh, termasuk menghadapi Covid19. Selain makanan mengandung probiotik, sebagian makanan juga menjadi ‘pre-biotik’ yaitu serat makanan dan bahan-bahan yang menjadi media tumbuh bagi zat probiotik tubuh manusia. Zat atau bahan ini penting untuk membantu pencernaan serta kesehatan lambung dan usus.

Menariknya, manusia sudah sejak lama memahami betapa pentingnya zat non-gizi ini. Bumbu jelas sudah tersedia sejak ratusan tahun. Sensasi rasa yang terbentuk dari aneka kombinasi bahan bumbu nyaris tak terbatas, dan telah membentuk peradaban dan kebudayaan manusia, setidaknya dari perspektif makanan. Di dalam kamus-kamus resmi hampir semua bahasa di dunia, jumlah kata yang terkait dengan makan dan makanan hampir selalu lebih banyak dari kata yang terkait dengan hal apapun lainnya. Makanan, bumbu yang digunakan dan rasa yang tercipta menjadi pembeda satu kebudayaan manusia dengan kebudayaan lain.

Konsumsi zat non-gizi dalam bentuk mikrob juga telah berkembang sejak awal peradaban. Sangat banyak makanan yang konsumsinya – sadar atau tidak sadar – ditujukan untuk menambah jumlah bakteri dalam tubuh. Makan sayuran segar, lalapan daun dan sambal mentah baik untuk ‘melatih’ tubuh membangun daya tahan dan menambah imunitas. Demikian juga makanan ‘olahan’ seperti kimci dan sayur asin, dan tentunya: tempe. Disebutkan bahwa tempe adalah makanan super karena mengandung prebiotik sekaligus para-probiotik. Dalam setiap gram tempe terdapat jutaan hingga milyaran bakteri baik yang memberi pengaruh positif bagi kesehatan dan imunitas.

Dalam kaitan ini, aspek ‘non-gizi’ dalam makanan membutuhkan perhatian yang lebih besar. Disatu sisi perlu dikembangkan untuk meningkatkan manfaatnya bagi kesehatan dan ‘well-being’ itu, tetapi disisi lain juga perlu diperhatikan bahwa dalam kelompok non-gizi juga terdapat zat-zat ‘anti-gizi’ yang dapat mengurangi serapan gizi oleh tubuh dan manfaat makanan secara keseluruhan, bahkan juga bisa terdapat racun yang dapat merusak dan membahayakan kesehatan.

Pangan dan gizi memang semakin menarik untuk ditelaah. Pendalaman sains dan ilmu pengetahuan terus diperlukan. Sosialisasi dan pendidikan yang terus menerus juga sama mendesaknya. Permasalahan pangan dan gizi memang semakin kompleks, terus berkembang, dan semakin ‘menyulitkan’. Namun hal itu juga membuka harapan, dan memberi semangat, mengingat sejarah manusia juga telah menunjukkan bahwa perkembangan peradaban menjadi lebih maju dan lebih baik salah satunya tergantung pada interaksi positif terus menerus antara manusia dengan makanannya.

Sekali lagi, mengikuti diskusi AIPG itu mencerahkan, karena belajar tentang pangan memang tidak ada habisnya, selalu ada yang baru. Lagi pula memang sebaiknya, terutama dalam masa pandemi seperti saat ini, kita harus berusaha agar makanan menjadi ‘obat’ kita, jika tidak ingin ‘obat menjadi makanan’ kita. Makanan – berikut gizi dan non-gizinya – memang adalah ‘obat’ kita yang pertama, yang terpenting, dan yang terbaik.


Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*