Merubah Pendidikan Pertanian?


Catatan Bayu Krisnamurthi 24 Oktober 2020

Ada 7 milyar lebih alasan yang menunjukkan pentingnya pendidikan pertanian, yaitu kebutuhan untuk memberi makan dan berbagai produk pertanian lain bagi 7 milyar orang di muka bumi, sekarang dan dimasa depan.

Dan itu harus dilakukan ditengah berbagai permasalahan dan keterbatasan.  Hanya dengan ilmu pengetahuan, teknologi, serta orang-orang, petani-petani, pengusaha-pengusaha yang mampu dan handal maka tantangan berat itu dapat dijawab.
 
Namun pendidikan pertanian itu sendiri juga menghadapi tantangan yang tidak kurang beratnya, dan tampaknya serupa di seluruh dunia: jumlah kegiatan pertanian (on-farm) yang semakin kecil dengan jumlah petani yang semakin sedikit, lahan-lahan pertanian menyusut, kegiatan pengolahan dan pemasaran pertanian yang semakin terkonsolidasi, semakin sedikitnya calon mahasiswa yang tertarik pada pendidikan pertanian, anak-anak petani bercita-cita untuk keluar dari pertanian, dan berubahnya tatanan kelembagaan masyarakat desa dimana sebagian besar kegiatan pertanian terjadi. 
 
Disisi lain teknologi pertanian berkembang sangat pesat, dan terutama dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan yang menjaga kerahasiaan pengetahuan dan teknologinya.  Perusahaan-perusahaan sarana produksi pertanian semakin terkonsolidasi, kebijakan pemerintah sewaktu-waktu dapat berubah, dan semakin besarnya pengaruh perdagangan dan bisnis global. 
 
Konsumen produk pertanian juga berubah, tidak lagi hanya melihat komoditi dan produk pertanian, tetapi mencari nilai lebih dari belanja yang dibayarkannya. Konsumen ingin membeli kelezatan, gizi, dan kesegaran dan bukan hanya beras, daging, atau sayur. Konsumen ingin ditunjukkan bahwa makanan yang dibelinya tidak merusak lingkungan atau tidak terlibat dalam pemaksaan kerja buruh yang dibayar murah, dan berbagai fitur lain.
 
Berbagai hal itu menuntut perubahan dalam pendidikan pertanian agar dapat tetap relevan dan berkontribusi positif. Dalam hal ini, yang dimaksud pendidikan pertanian adalah institut pertanian, fakultas pertanian (dalam arti luas) di berbagai universitas, akademi pertanian, dan juga sekolah menengah pertanian. Pertanyaannya adalah apakah untuk perubahan itu pendidikan pertanian cukup melakukan penyesuaian (fine-tune) program dan kegiatan pendidikannya, atau harus melakukan perombakan besar, yang kreatif dan inovatif, bersifat struktural dan mendasar? Atau diambil jalan kompromi, perubahan yang ‘gradual’, bertahap, dari waktu ke waktu?
 
Situasi yang berubah dan kebutuhan perubahan dalam pendidikan pertanian sebenarnya sangat disadari oleh sebagian besar pelaku pendidikan pertanian sendiri. Namun perubahan besar dan struktural itu sulit dan melelahkan. Membutuhkan energi yang besar dan beresiko. Sangat sering itu membuat takut. Disisi lain, untuk keluar dari zona nyaman dengan hal-hal yang sudah sehari-hari dilakukan terasa sangat berat. Padahal kenyamanan itu sering terjadi hanya karena kebiasaan bukan karena kebenaran. Jalan kompromi terlihat seperti ideal, karena seolah menggabungkan kedua situasi serba tidak menguntungkan. Tetapi sering menjadi jebakan yang juga membuat tidak dapat keluar dari kenyamanan karena hampir selalu terjadi perubahan eksternal berjalan jauh lebih cepat dari perubahan bertahap yang direncanakan.
 
Lieblein, Francis, dan King, dalam Journal of Agricultural Education and Extension, April 2000; telah menawarkan pendekatan yang mungkin lebih ‘do-able’, realistis untuk dilaksanakan, menjawab kebutuhan perubahan pendidikan pertanian dan keluar dari dilemma perubahan sendiri. Caranya adalah dengan menambahkan sebanyak mungkin kegiatan interaktif antara lembaga pendidikan pertanian dan kegiatan belajar mengajarnya dengan kegiatan riil pertanian, termasuk rangkaian kegiatannya mulai pengelolaan sumberdaya alam, sarana produksi pertanian, usahatani,  pengolahan, pengangkutan, pemasaran dan hubungan dengan konsumen. Jargonnya sederhana, pendidikan pertanian menerapkan ‘action-based knowledge’ dan ‘knowledge-based action’.  Keilmuan yang dikembangkan adalah ‘applied technical research and education’ dan ‘applied social research and education’ berdasarkan ‘building block of sciences and humanities’.  Lembaga pendidikan pertanian menjadi juga lembaga yang ‘belajar pertanian’, guru dan murid sama-sama mengajar dan belajar. 
 
Jika ide Lieblein dkk itu diterima, timbul pertanyaan lanjutan yang penting. Apakah lembaga pendidikan pertanian adalah lembaga pendidikan “teknikal-fungsional” yang memang didedikasikan untuk melayani bidang / sektor pertanian, seperti misalnya lembaga pendidikan kedokteran melayani pelayanan kesehatan, lembaga pendidikan pilot melayani industri penerbangan, dan sejenisnya? Ataukah sebagai lembaga pendidikan yang sebenarnya bersifat umum? Konsekuensi dari jawaban atas pertanyaan penting itu adalah: apakah lembaga pendidikan pertanian harus lebih patuh pada ketentuan / regulasi terkait lembaga pendidikan (pada umumnya)? Atau harus lebih taat pada kaidah dan perkembangan sektor yang dilayaninya, dalam hal ini sektor pertanian?  Artinya, jika pendidikan pertanian berkreasi mengembangkan pendidikan yang lebih sesuai dengan kebutuhan sektor pertanian, tetapi – misalnya – tidak sejalan dengan ketentuan pendidikan pada umumnya, bolehkah?
 
Ternyata memang tidak mudah melakukan perubahan. Banyak masalah yang dihadapi. Solusi atas satu masalah ternyata tidak bebas dari timbulnya masalah lainnya. Dan lagi-lagi, godaan kenyamanan dari kebiasaan yang selalu saja ada, meski belum tentu membawa kebenaran.  Namun, ada yang mengatakan: to change is difficult, not to change is fatal. Cerita peradaban adalah cerita perubahan, manusia dapat melewati berbagai cobaan justru karena kemampuannya untuk selalu berubah dan beradaptasi. Demikian juga dengan pendidikan pertanian.–

 


Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*