Jagung Bertelur


Catatan Bayu Krisnamurthi 24 September 2021

Ini bukan fiksi atau dongeng, tetapi bisa jadi contoh ‘kisah klasik’ pentingnya memandang pertanian dengan kerangka sistem dan usaha agribisnis. Soal jagung dan peternakan ayam.

Harga jagung telah naik sangat tinggi, meski sudah mulai menurun lagi. Harga jagung rata-rata nasional bulan Januari 2021 adalah Rp 4470/kg. Lalu mulai menaik mencapai Rp 5390/kg bulan April dan puncaknya pada bulan Agustus mencapai Rp 5780/kg. Artinya telah naik hampir 30% hanya dalam 7 bulan.

Petani jagung tentu berharap harga jagungnya naik, dan akan senang jika kenaikan harga itu dapat dinikmatinya. Namun sepertinya bukan itu yang terjadi.

Ada dua faktor yang patut diduga menjadi penyebab kenaikan harga jagung. Pertama, siklus produksi, surplus dan defisit bulanan. Tahun 2021 ini produksi jagung bulanan yang melebihi konsumsi bulanan terjadi pada Januari, Februari dan Maret. Surplus akumulatif 3 bulan pertama 2021 itu mencapai sekitar 2,7 juta ton. Memasukkan ‘carry over stock’ akhir tahun 2020 yang diperkirakan mencapai 850 ribu ton, maka di akhir Maret secara statistik harusnya ada sekitar 3,6 juta ton stok jagung.

Mulai April-Mei, hingga saat ini bulan September, dan diperkirakan hingga Desember akan terjadi defisit bulanan – produksi bulanan lebih kecil dari konsumsi bulanan. Pada bulan September ini diperkirakan terjadi defisit jagung hingga 300 ribu ton. Defisit itu cenderung menyebabkan terjadinya peningkatan harga, dan kenaikkannya tidak diterima petani karena panen telah berlalu dan stok jagung – kalau pun ada – tidak lagi ada di petani.

Lalu bagai mana dengan stok yang besar, yang pada bulan September hitungannya masih ada sekitar 2,3 juta ton itu? Disinilah permasalahan data mengemuka. Secara statistik memang tercatat, tetapi tampaknya perlu dilengkapi dengan data lebih rinci: stok itu ada dimana alamatnya? di gudang yang mana? punyanya siapa? berapa harganya? bagaimana kondisinya? apa jenis jagungnya?

Soal jenis jagung itu juga penting, karena tidak semua jagung bisa untuk pakan. Ada jagung pakan (ternak), jagung industri (untuk tepung maizena) dan jagung konsumsi (jagung pulut, jagung manis, dan sebagainya).

Menurut kabar dari Kemtan, stok jagung yang diperkirakan masih ada pada bulan September ini, 30% ada di gudang pabrik-pabrik pakan ternak, 32% ada di pengepul atau pedagang pengumpul, 18% ada di ‘para agen’ (?), dan 20% ada usaha lain, eceran dan rumah tangga. Uraian lebih lanjut belum diperoleh, dan rincian alamat gudang penyimpannya juga belum dapat ditunjukkan.

Faktor kedua adalah harga jagung internasional. Bulan Januari 2021 harga f.o.b jagung mencapai USD 203/ton. Bulan Mei 2021 naik menjadi USD 274/ton dan telah menurun lagi hingga USD 198/ton dibulan September ini. Dan tampaknya fenomena ‘asymmetric price transmission’ terjadi: ketika harga LN naik (Jan-Mei), harga DN langsung ikut naik, tetapi ketika harga LN turun (Juni-September) harga DN tidak ikut turun.

Jadi, di jagung saja sudah ada masalah-masalah serius – soal jenis jagung apa, stok itu ada dimana, dan transmisi harga asimetrik. Permasalahan menjadi lebih rumit karena harga jagung yang mahal berdampak pada peternakan ayam, dimana pakan menjadi kontributor utama dalam biaya dan jagung adalah kontributor utama dalam pakan.

Mahalnya harga jagung jelas meningkatkan biaya produksi peternak. Pada saat yang sama, peternak juga menghadapi jatuhnya harga daging dan telur. Diduga penyebab jatuhnya harga telur dan daging ayam adalah penurunan permintaan yang signifikan.

Dalam 3-4 bulan terakhir, restoran ditutup, hotel tidak beroperasi, konsumen ingin ‘makan diluar rumah’ dilarang, serta acara pernikahan dan aneka pesta ditiadakan sehingga kegiatan katering sangat berkurang. Semua itu menyebabkan penurunan permintaan daging ayam dan telur.

Jika dilihat secara parsial-konvensional, pertanian jagung dan peternakan ayam secara terpisah; maka yang terjadi adalah ‘pertentangan’: petani jagung ingin harga jagungnya naik, peternak ayam ingin harga jagung turun dan rendah.

Itulah sebabnya, cara pandang parsial-konvensional itu perlu diganti dengan pandangan yang lebih menyeluruh dan integratif, pandangan sistem dan usaha agribisnis; atau pandangan sistem pangan terpadu. Dengan pandangan itu, investasi pabrik tepung telur atau gudang-gudang penyimpan-dingin karkas ayam, akan juga menjadi kepentingan petani jagung. Atau sebaliknya usaha membangun ‘silo-storage-system’, infrastruktur penyimpanan para petani jagung yang modern dan berteknologi maju, adalah juga kepentingan peternak ayam.

Ekonomi Indonesia telah semakin maju, sistem dan usaha agribisnis Indonesia juga perlu maju dengan kecepatan yang sama. Tidak ada waktu untuk bertengkar dan bertentangan, tetapi justru perlu bergandeng tangan, bersinergi, dan bekerja bersama. Semoga bisa.—


Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*