Antara Pendidikan, Dunia Kerja dan Nadiem

Nadiem Makarim, co-founder of Gojek, arrives at the presidential palace on Monday © Reuters

Endang Rudiatin, praktisi dan peneliti pendidikan dan wirausaha, dosen UMJ

Awal berdiri gojek 2010, menjadi bahan pembincangan para dosen di sosmed. Hampir semua yang berdomisili di Jakarta menyoroti lulusan sarjana yang menjadi driver gojek. Kebanyakan mereka berpendapat, gojek menjadi solusi sementara bagi sarjana sarjana yang mengganggur. Saya yang berdomisili di Semarang memiliki cara pandang sendiri, bahwa gojek itu justru membuat para sarjana malas berusaha. Dengan modal berpikir ilmiah yang sudah terstruktur dan tersistematik, para sarjana bisa membuka usaha apa saja. Bu Indri seorang psikolog yang banyak meluangkan waktu untuk menjadi pendamping para napi wanita di rutan Pondok Bambu, melihat Gojek tidak memberi beban psikis bagi para sarjana itu, dibandingkan pekerjaan lain. Kemunculan Gojek sudah cukup prestisius dan sangat milenial dengan aplikasi. Tentu tidak semua orang bisa langsung familar dengan aplikasinya.

Endang Rudiatin, praktisi dan peneliti pendidikan dan wirausaha, dosen UMJ
Endang Rudiatin, praktisi dan peneliti pendidikan dan wirausaha, dosen UMJ

Sesudah 2013 menjadi penduduk Jakarta di pinggiran saya mulai berpikir sama dengan Bu Indri dosen FH UNKRIS yang sudah almarhum 3 tahun lalu. Gojek sampai 2019 belum ada yang menyaingi kecuali Grab. Semakin berkembang ke arah Go car, bukan hanya pemilik SIM C tetapi pemilik SIM A pun mendapatkan solusi pekerjaan. Bu Indri alm ia mendapat banyak temuan tentang Gojek ini dari para napi wanita yang suami, ataupun kerabat nya yang mulai beralih kerja menjadi driver Gojek/Grab dan dari mahasiswa nya tentu saja. Sayapun sering berinteraksi dengan mahasiswa terkait program Kemenristek dikti (dulu) yang sedang gencar-gencarnya mencetak mahasiswa pengusaha. Pengalaman sejak 2015 mengurusi UMKM, ada perbedaan besar dengan pengusaha mahasiswa. Pengusaha mahasiswa bisa mencetak start up, dibanding UMKM yang mayoritas wanita. UMKM berangkat dari kebutuhan dasar, sehingga produk nya tidak jauh dari kebutuhan rumah tangga. Sedangkan pengusaha mahasiswa berangkat dari inovasi dan kreatifitas. Kadang mereka tidak memikirkan dana, diutamakan inovasi bisa dikembangkan. UMKM berhitung modal day by day, kreatifitas berhasil dengan amati, tiru dan modifikasi (he he). Mahasiswa punya gaya pemikiran sendiri, yang saya pun sering kali tidak berani mendikte atau buat format semacam proposal, karena justru mematikan daya khayal mereka. Mahasiswa cukup ditekan tombol gairahnya dan mereka akan bekerja sendiri dengan caranya. Mungkin sulit nya perguruan tinggi mencetak start up, disebabkan langkah teoritis yang tidak selalu sama dengan milenial.

Cerita sedihnya dari perkembangan teknologi melalui unicorn dan decacorn yang melanda milenial, mereka menjadi obyek pasar besar. Pasar yang tidak gaptek teknologi. Indonesia dengan jumlah penduduk 267 juta, dimana perkembangan teknologi nya lebih banyak dikendalikan kaum muda milenial. Rantainya perusahaan start up-milenial- penduduk Indonesia. Demikian tentang Gojek (juga Grab), hampir semua driver Gojek kadang go car adalah mahasiswa, atau pernah mahasiswa, diantaranya mahasiswa putus kuliah dan mahasiswa penunggak ujian skripsi.

Hasil interaksi dengan mahasiswa Ojol (istilah untuk memudahkan), berawal dari kesulitan suami mengantar jemput menembus kemacetan yang menghilangkan waktu berjam jam di jalanan, saya disarankan untuk menggunakan ojol.

Ojolpun menyelesaikan masalah suami istri yang tidak bisa pulang bersama ketika macet. Ojol menjadi solusi kemacetan, cepat sampai dan hemat waktu. Sangat dekat dengan masalah mahasiswa yang setiap hari kejar-kejaran ke kampus dengan motor. Jadi Ojol menjadi solusi yang dekat bagi mahasiswa dan yang pernah jadi mahasiswa. Sering kali ketika mengambil ojol di kampus, selalu bertemu driver yang mahasiswa dua jenis di atas.
Beberapa yang saya temukan, putus kuliah disebabkan harus membiayai anak dan istri. Sebelum kuliah selesai mereka sudah menikah. Lalu mahasiswa yang menunggak ujian skripsi karena menunggak uang kuliah. Menurut mereka menjadi driver Gojek ini cara paling cepat bisa dilakukan, walaupun untuk mendapatkan akun sebagai driver harus antri menunggu. Kesulitan inipun bisa diatasi dengan meminjam atau membeli akun driver lain. Satu akun beberapa driver.

Dalam seminggu mereka bisa mengumpulkan 1 juta atau lebih, lalu sebulan kira-kira bisa ditebak. Bisa jadi income mahasiswa Ojol lebih tinggi dari dosen nya (He he).

Lalu bagaimana harapan munculnya para pengusaha mahasiswa dambaan Kemenristek dikti? Inilah pertanyaan yang sekarang menjadi tugas Nadiem Makarim. Mampukah ia mencetak mahasiswa start up yang unicorn dan berpotensi decacorn? Seorang Nadiem yang diharapkan menjadi guru bagi para start up milenial di kalangan pelajar dan mahasiswa. Bagaimana seorang Nadiem membangun peradaban revolusi 4.0, sehingga muncul start up, start up dari kampus, menambah deretan milenial start up, hijup, ruang guru, e Fishery, Kitabisa, Qlapa dari kategori FinTech, EdTech, Legal, Internet of Things (IoT), BioTech, Travel, dan Online Media. Nadiem…. keajaiban mu ditunggu!


Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*