BANK INFAK DUNIA, GAGASAN YANG MENDADAK VIRAL


Demikian Sandy Uno membuka pembicaraan tentang Bank Infak gagasannya di depan anggota Indonesia Small Medium Enterprises Association (ISMEA). Selanjutnya ia mengatakan bahwa ide ini berangkat dari trend filantropi atau kedermawan yang dilakukan tokoh2 dunia seperti Billgates, Muhammad Yunus, untuk mengatasi masalah kemiskinan, penyakit, membantu bencana dan masalah sosial lain di masyarakat. Konsep infak ini adalah konsep yg hi level dalam ke Islaman kita. Di dunia sudah menjadi global trend. Sekarang ada yang disebut crowdfunding (patungan)yang beberapa tahun belakangan sudah berkembang sebesar 5 % sekitar 400 milyar. Dana patungan yang bagi ibu-ibu dikenal sebagai arisan. Potensi pasar crowdfunding besar sekali dan yang sampai ke pasar on line sekitar75 trilyun. Perbankan tumbuh berkembang, tetapi ada gap dari segi dampaknya kepada masyarakat, yaitu walau perbankan tumbuh tapi belum bisa inklusiv. Justru sistem urunan, patungan, crowdfunding dan pengelolaan infak yang bisa menjadi aspek untuk meningkatkan inklusivitas daripada sistem keuangan kita dan mampu melibatkan masyarakat luas, “karena misalnya ibu ibu malas ke bank, petugas bank juga jarang ke rumah. Akan tetapi bila ikut arisan, majelis taklim, kumpul-kumpul seperti ini, lalu ada yang mengajak beramal, itu jauh lebih meningkatkan inklusivitasnya. Dan saya lihat penetrasi perbankan masih sangat rendah. Apalagi ibu- ibu masih alergi terhadap perbankan, apalagi saat ini banyak yang terkena jeratan rentenir, seperti bank keliling, on line kredit”.
Inklusivitas keuangan di Indonesia masih di bawah Malaysia, Bangladesh yg ekonominya masih dibawah Indonesia. Pelibatan masyarakat penting terkait dengan bank infak.

Sandy menyemangati ibu-─║bu dan bapak-bapak di ISMEA untuk mengaktifkan sistem urunan atau arisan bagi pengembangan ukm.
Sandy mengibaratkan, pengumpulan dana dari cukai rokok 150 trilyun, sedang pengumpulan ZIS nasional itu baru mencapai 8 trilyun. Bandingkan bagaimana dana dari rokok itu bisa dikelola dengan inklusivitas untuk kesejahteraan masyarakat.

Bank Infak itu adalah pengelola infak. Infak yang biasa dilakukan selama ini kurang produktif, karenanya perlu dikelola secara produktif untuk bisa membantu pengentasan kemiskinan, orang-orang yang terlilit hutang, yang sakit tidak ada biaya, Sandy menerangkan inklusivitas dari bank Infak lebih detail.

Endang Rudiatin, ketua umum ISMEA membagi pengalaman ketika ISMEA pernah berpameran di suatu mall besar dan ada sesama tenant dari salah satu ormas yang menjemput ZIS di kalangan pengunjung dan tenant-tenant mall. Sebagai bagian dari tenant mall anggota ISMEA memberikan infak sebelum buka lapak ke lembaga ZIS tersebut. “Pada suatu hari kami mengalami sepi pembeli, tidak ada satupun produk yang terjual, lalu ada yang teringat bahwa hari itu pada lupa berinfak. Jadi infak itu nyata menambah bukan mengurangi”. Lalu Endang menambahkan “Sebetulnya kami ISMEA sudah pernah memulai sosialisasi Infak di kalangan UKM-IKM, tetapi karena gaungnya kecil jadi kurang didengar. Kami butuh seseorang seperti bang Sandy yang bisa memperjuangkan sistem infak ini”. (lihat news.ismea.net 2017-red). Bang Sandy membenarkan dan berjanji akan bekerja lebih serius bersama Ok Oce dan bekerja sama dengan ISMEA agar bank Infak juga dapat dimanfaatkan oleh anggota dan seluruh UKM IKM.

Diskusi tentang bank Infak di acara Halal bi halal dan Silaturahim ISMEA ini menarik perhatian peserta dan direspon sangat antusias. Semua berharap ISMEA masih akan melaksanakan diskusi ini sebagai lanjutan.

Di akhir diskusi ketua ISMEA Endang Rudiatin mengatakan, banyak potensi kolektif dan permasalahan dalam masyarakat yang perlu ditangani dan dikelola lebih serius dan profesional. Masyarakat butuh ada figur-figur yang mampu menjembatani antara potensi kolektif ini dan solusi mengatasi permasalahan. Bang Sandy satu figur yang mau dan berani mengambil peran untuk itu. Para UKM IKM perlu berterima kasih dan support agar bang Sandy bisa merealisasikan bank Infak sesuai dengan harapan, demikian closing ketua umum ISMEA.

Acara tersebut dihadiri juga oleh penggerak Ok Oce, ketua umum Ok Oce Iim Rusyamsi, co founder Indra Uno serta IIBF. Pembicara lain dalam diskusi ini adalah Heppy Trenggono presiden Indonesia Islamic Bussines Forum (IIBF), yang adalah juga penggagas Beli Indonesia.

 


Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*