Refleksi ISMEA 2019


Para sahabat, 3 tahun sudah usia ISMEA per Januari 2019 ini. Perjalanan nya sangat lambat bagi dunia usaha di era milenial yg sudah bergerak sangat cepat. Banyak faktor penyebabnya, tidak hanya eksternal tetapi juga internal. Kendala yang paling banyak justru ada pada faktor internal seperti mindset, mental, perilaku wirausaha, sikap kompetitor, komitmen dan semangat kemitraan. Semua faktor tersebut dapat dikatakan sebagai gambaran budaya UKM-IKM yang membuatnya sulit untuk didampingi maupun dibina menjadi a good entrepreneur.

Menapak tilasi dan muhasabah di perjalanan membangun asosiasi seperti ISMEA, banyak nya komunitas yang dimasuki oleh UKM-IKM seringkali tidak menambah point peningkatan usahanya, kadang malah cenderung menjadi arena aktualusasi diri dalam gaya hidup sosialita. Terbanyak melanda para pengusaha perempuan. Di sisi lain, kompetisi tidak sehat akan muncul ketika keberadaan komunitas-komunitas tersebut dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang menjadi mitra suatu kementerian dan dinas-dinas yang mengurusi UKM-IKM. Para pengusaha UKM-IKM menjadi sasaran proyek oknum tersebut. Akhirnya fenomena yang tampak dalam berbagai kegiatan UKM-IKM “lu lagi lu lagi”. Terlebih lagi bila di akhir kegiatan ada amplop bagi setiap UKM-IKM. Seringkali para peserta pelatihan di kementerian dan dinas-dinas, lebih banyak dihadiri para broker, reseller, daripada pemilik produk. Sedangkan materi-materi pelatihan lebih banyak ditujukan bagi produsen, seperti bagaimana membuat produk berkualitas, pengolahan produk yang ramah lingkungan, aman dikonsumsi, pengelolaan keuangan sederhana dan mudah dan sejenisnya. Akhirnya dukungan fasilitas terhadap UKM-IKM pun laksana pisau bermata dua. Hal tersebut acapkali dikeluhkan para pendamping UKM-IKM di dinas-dinas.

Sistem pendampingan UKM-IKM di DKI Jakarta, oleh gerakan Ok Oce cukup berhasil mengubah “budaya” UKM-IKM tsb, walaupun masih banyak pembenahan di beberapa tempat, terutama marketplaces bagi UKM-IKM di tengah maraknya jaringan retail pasar modern di Jabodetabek.

ISMEA ada di tengah-tengah fenomena demikian, dan beberapa kali terjadi eksodus anggota, terjadi tarik menarik anggota oleh kemunculan berbagai komunitas-komunitas baru. ISMEA melepaskan diri dari dinamika pergerakan para UKM-IKM seperti itu dengan membuat kebijakan menjadikan koperasi sebagai wadah usaha para anggota, supaya praktek bisnis anggotanya lebih tertata dan tercatat rekam jejak maupun aliran keuangan asosiasi. ISMEA sering diposisikan sebagai badan sosial yang memiliki tugas mengurusi UKM-IKM, sehingga seringkali dituntut untuk selalu free charges dalam semua kegiatannya. Mindset sebagian orang yang selalu menempatkan UKM-IKM sebagai pelaku usaha yang harus disantuni selalu, menghasilkan entrepreneur yang tidak kompetitif. Belum banyak yang memahami bahwa asosiasi adalah organisasi untuk kepentingan bersama. Dimanfaatkan dan bermanfaat buat semua anggota. Tata kelolanyapun dilakukan bersama, sebab asosiasi adalah mitra pemerintah. Tugas memajukan UKM-IKM adalah tugas kementerian dan dinas-dinas. Perkumpulan/asosiasi adalah organisasi nirlaba, swadaya masyarakat dan kewajiban pemerintah untuk memfasilitasi dan mendukung pergerakan asosiasi/perkumpulan mitranya. Disayangkan ada oknum di dinas-dinas membentuk komunitas dan justru menjadi kompetitor mitra pemerintah. Inilah beberapa kendala internal yang sering dihadapi asosiasi seperti ISMEA.

Dalam berbagai kegiatan baik pameran/bazaar bekerjasama dengan mall-mall besar, seringkali pihak menejemen Mall atau EO tidak memiliki attitude yang baik. Setelah kerjasama pameran/bazaar berakhir, pihak menejemen atau EO mengontak sendiri para tenant dari ISMEA untuk ikut pameran/bazaar mereka berikutnya. Bila bersama ISMEA, sistem yang dibangun bagi hasil atau harga booth berbiaya rendah sebagai bentuk kepedulian pengusaha besar memberikan ruang usaha bagi UKM-IKM. Akan tetapi bila langsung ke tenant, dikenakan tarif normal booth berkisar 3 sampai 5 juta per booth. Sangat disayangkan kerjasama antar UKM-IKM yang sudah dibangun yang membuat posisi tawar UKM-IKM yang sudah tinggi menjadi rendah lagi. Kenyataan ini juga kadangkala tidak disadari tenant, mereka terbawa gambaran prospektus berjualan di Mall-mall secara individual. Sejatinya era sekarang perusahaan besar saja saling bergabung dalam kepemilikan saham membentuk perusahaan multi nasional agar bisa go internasional dan menguasai pasar dunia. Bagaimana UKM-IKM dalam kompetisi pasar dengan perusahaan besar berjalan sendiri-sendiri? Pencitraan bagi UKM-IKM berbiaya tinggi secara individual. Lebih baik membangun brand dalam komunitas yang juga membangun brand nya.

Semoga tahun 2019, dengan masuknya para pengusaha muda dalam kepengurusan ISMEA selanjutnya bisa melanjutkan jaringan kemitraan yang sudah dibangun dengan lebih baik. Core business ISMEA 2019, membangun branding melalui perbaikan packaging. ISMEA sukses, Sukses ISMEA.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*