We Are What We Eat


We Are What We Eat

Catatan Bayu Krisnamurthi 15 Oktober 2020
Menyambut Hari Pangan Sedunia 16 Oktober 2020

Ada ungkapan yang cukup terkenal “you are what you eat”, anda adalah apa yang anda makan. Makanan adalah identitas. Ungkapan ini memiliki banyak makna. Ada yang melihatnya benar-benar secara fisikal. Kabarnya kulit manusia berganti setiap sekitar 30 hari, hati (liver) organ yang sangat penting dalam tubuh berganti setiap 5 bulan, tulang berganti setiap 10 tahun. Dan tubuh kita membuat sel-sel pengganti bagian bagiannya itu dari makanan yang kita makan. Jadi apa yang kita makan benar-benar akan “menjadikan” seperti apa tubuh kita.

Ada yang menggunakan ungkapan itu untuk mengajak memakan jenis makanan tertentu. Jangan makan makanan sampah (junk-food), atau makanan palsu (artificial food): you are what you eat, so don’t be fast, cheap, easy and fake.   Makanan memang bisa menjadi obat (medicine) yang paling efektif dan kuat, membangun imunitas, kebugaran dan kesehatan; atau menjadi racun yang perlahan-lahan membunuh kita.  Gula, garam, dan lemak adalah bahan makanan yang hampir selalu dinasehatkan untuk dihindari, sayur dan buah adalah yang dinasehatkan untuk lebih banyak dimakan.

Makanan ternyata memiliki makna lebih luas dari hal yang bersifat fisik itu.  Makanan adalah juga identitas bangsa. Kita mengatakan sashimi atau tempura sebagai identitas Jepang. Atau tom yam kung adalah makanan Thailand, kimci dan bibimbap makanan Korea, croissant dari Perancis, dan tortilla dari Mexico.  Pangan juga menjadi identitas yang lebih ‘mikro’ kedaerahan. Gudeg dari Jogja, rendang makanan Minang, konro dari Makassar, dabu-dabu dinikmati di Manado, dan seterusnya.

Hal ini ternyata memiliki banyak konsekuensi. Penerimaan atas makanan yang ‘berbeda’ menjadi simbol keberterimaan atas nilai-nilai yang berbeda, menerima keberagaman, plural, dan menjadi lebih inklusif.  Namun disisi lain juga merupakan bentuk infiltrasi halus antar budaya, yang memiliki konsekuensi ekonomi. Seperti halnya strategi Thailand mendorong tersebarnya restoran-restoran Thai di berbagai belahan dunia – mengikuti restoran Jepang atau restoran berbudaya makan negara-negara Barat yang telah lebih dahulu tersebar, yang kemudian diikuti dengan peningkatan ekspor dari Thailand ke negara dimana restoran mereka berada untuk memenuhi kebutuhan bumbu, aksesoris restoran, bahan makanan, bahkan juga tenaga juru masak.

Makanan juga memberi indikasi status sosial. Dalam tatacara makan yang berlaku dalam budaya China, atau ‘fine-dining’ feodal Eropa, juga di beberapa budaya masyarakat lain; makanan dinikmati dalam sejumlah ‘course’ atau sajian. Mulai dari ‘appetizer’ (pemancing rasa) hingga makanan penutup (dessert).  Semakin banyak jumlah ‘course’ itu semakin tinggi status sosialnya. Atau dengan menampilkan kemampuan menikmati makanan eksotik yang tidak lazim ada di daerah atau diwaktu yang bersangkutan sebagai bentuk status sosial dan kekuasaan kekayaan yang dimiliki.

Makanan adalah juga simbol ritual dan kebudayaan.  Adanya nasi tumpeng atau kue pernikahan yang menjulang tinggi menjadi simbol dari peristiwa penting yang sedang dialami. Hal ini juga berlaku dalam berbagai bentuk dan jenis kombinasi makanan yang disajikan dan dinikmati sebagai bagian dan terkait dengan kegiatan budaya tertentu.

Pendeknya, makanan adalah identitas. Identitas negara, identitas daerah, identitas budaya, identitas status sosial, bahkan juga identitas gender. Meskipun sekarang telah semakin banyak pria yang memasak dan menyiapkan makanan, masih lazim dimaknai – dalam arti positif – wanita lah yang menjadi penentu pola makanan dan asupan gizi keluarga.  Pandangan ini berkaitan pula dengan posisi Ibu sebagai yang mengandung dan melahirkan bayi. Kualitas pertumbuhan janin dan bayi yang dilahirkan sangat ditentukan oleh kualitas asupan makanan Ibu pada saat hamil. Tumbuh kembang anak pada umur awal kehidupannya juga ditentukan oleh kualitas dan kuantitas ASI serta intensitas dan kualitas proses menyusui, dan hal ini sangat erat kaitannya dengan kuantitas dan kualitas makanan yang diperoleh Ibu menyusui.

Menu makanan di meja keluarga akan menentukan asupan gizi yang akan diperoleh keluarga itu. Makanan yang beragam, bergizi, berimbang memang dimulai dari rumah. Dan hal itu hanya dapat terjadi jika orang dewasa yang menyiapkan makanan itu – Ibu atau Ayah – memiliki pengetahuan yang memadai tentang pangan dan gizi. Dalam pengertian itu pula, pangan dan makanan serta pengetahuan yang terkait adalah salah satu wujud pewarisan yang paling berharga dari generasi ke generasi.

Makanan atau pangan memang sesuatu yang kompleks. Produksi hanya salah satu bagian (kecil) dari kompleksitas pangan. Oleh sebab itu, memang menjadi bahaya jika dalam memperingati sesuatu yang terkait pangan – seperti Hari Pangan Sedunia misalnya – kita terlalu menyederhanakan pikiran tentang pangan, meskipun yang sederhana itu tidak berarti lebih kurang arti pentingnya.  Menyederhanakan hal tentang pangan seringkali akan berakhir pada ketidak puasan dalam usaha menyediakan pangan atau menyelesaikan masalah-masalah terkait pangan.  Itu tampaknya yang berulang kali kita hadapi. Mungkin dalam kenyataannya kita masih terus perlu diingatkan bahwa we are what (we think) we eat.


Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*